Setiap anak beda potensi. Benar-benar unik.
Tiap hari hampir selalu si kecil (8 tahun) mengajak bermain origami. Bakat menyusun atau mendisain sesuatu muncul sejak usia 5 tahun. Awalnya bermain "lasy" (mirip nyusun lego, namun bentuk-bentuk unitnya lebih kokoh dan beragam, buatan Jerman) sampai lasy di rumah kami benar-benar hancur. Rusak keping demi keping. Meskipun harga lasy relatif mahal, tentu ndak harus ada kata sesal, jika melihat si kecil bisa berkreasi, senang bahkan bisa berbagi dengan anak-anak tetangga lainnya. Masa-masa ini mulai ditinggalkan, minimal tidak menjadi fokus si kecil karena berkurangnya jumlah dan bentuk unit lasy yang masih layak pakai.
Mulai kelas 1 SD, si kecil sudah mulai merambah seni melipat kertas. Bahannya murah, tersedia di mana-mana, dan kreasinya tidak terbatas. Bahkan sebuah situs menawarkan sharing bentuk dan cara melipat origami sampai ratusan biji. Mulailah si kecil minta diajarin origami buat kapal laut, katak tongki, burung bangau yang terkenal itu, sampai dinasurus, berbagai bentuk pesawat kertaspun dicobanya.
Tidak di sekolah, tidak di rumah, hari biasa, hari libur, origami masih menjadi kesenangan si kecil. Alhamdulillah ini mainan super asyik, murah meriah :-) Tinggal menyediakan kertas satu rim dan bermainlah si anak. Sempat khawatir karena di sekolah juga melipat, apa ndak belajar nanti. Tapi biarlah mungkin ada masanya.
Setiap si kecil bisa satu origami, si upik bawa ke sekolah dan ajarkan ke teman-temannya di Sekolah. Kadang-kadang sebaliknya, origami baru dipelajari dari teman di sekolahnya. Kalau si kecil sudah main origami bersama teman-temannya wah ribut sekali. Ada yang benar-benar mau belajar dan mengikuti proses melipat, ada yang ingin dibuatkan. Dunia berbagi memang indah.
Suatu ketika, si kecil mengajak melipat kertas lagi. Saya iseng nanya
"Dik Nuha, sudah brapa macam origami yang dibuat Adik?"
"Dah banyak Yah... tapi belum ke itung, ada Suriken, Katak Tongki, Plentosaurus, Penyu, Ikan.. apalagi ya" sambungnya sampai terus melipat
"Wah banyak juga yaa. Coba ditulis Nuha kira-kira ada berapa. Kalau dah 100 buah, nanti adik bisa buat brosur, undang teman-temannya belajar origami bareng di rumah yaa."
Selang beberapa hari Nuha kembali dengan list origami mencapai 45 buah.
"Yah kalau udah 100 buah, jadi yaah buat brosur. Nuha mau buat perusahaan origami aja. Nanti Nuha undang teman-teman Nuha ke rumah. Ndak usah bayar mahal-mahal yang penting bisa beli kertas origami"
Saya tersenyum dengan ide perusahaan origami. Dan terus tersenyum mendengar kepolosan Si Kecil yang pernah berujar tidak mau jadi pegawai, mau jadi pengusaha origami saja. Ini bener-bener mau jadi pengusaha, atau cuman ndak mau belajar yang susah-susah di sekolah ya? 
Yang jelas, jadi ketempuan, Nuha minta diajari bikin origami sampai 100. Siapa tahu ada dari pembaca yang mau berbagi.